Tampilkan postingan dengan label Coffee Chat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coffee Chat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 November 2014

Penggila Bubble Tea yang Setia Pada Kopi





Yes, please, Mr. Gosling!

Saya dan kopi bukan pasangan ideal. Lebih tepatnya, kami pasangan yang janggal. Sesekali saya masih menduakan kopi dengan bubble tea rasa taro yang rasanya lebih centil. Tapi perselingkuhan saya dengan bubble tea rasa taro nggak pernah bertahan lama. Akhirnya, kepada kopi saya selalu kembali. 

Ada riak yang memprovokasi inspirasi di balik permukaan tenang seduhan kopi. Yeap, kopi sering menjentikkan sesuatu di dalam kepala saya. Saat mati gaya bertemu dengan narasumber yang kaku, perdebatan santai tentang kopi hitam dan kopi susu bisa melelehkan suasana. Ketika berbeda pendapat dengan Ayah, secangkir kopi jadi pemecah keheningan yang nyaman. Atau ketika tenggat waktu pekerjaan memburu, segelas kopi dingin bisa diandalkan.
 

Hubungan saya dan kopi memang janggal karena, sumpah, saya nggak terlalu suka dengan sensasi pahit atau getir di penghujung rasa kopi. Tapi saya setia pada kopi karena kopi bukan pencemburu, yang menuntut dengan buru-buru. Karena kopi itu santai, tapi bisa melesatkan ide-ide baru. Karena kopi itu tepat waktu, ia tahu kapan harus menjelma jadi letupan semangat, ia juga tahu kapan harus mewujud jadi sahabat.


***
Twitter: @cemmmpaka

Senin, 14 Juli 2014

Karakter! Karakter!

Catatan Workshop Cerpen Kompas
Bab 2: Menyapa Pangeran Kunang-kunang, Agus Noor


(Masih dalam suasana gagal move on dari Workshop Cerpen Kompas)

Tidak sulit mengenali sosok Agus Noor di antara kerumunan orang. Rambutnya gondrong diikat seadanya dengan karet yang juga seadanya, berkacamata, tubuhnya yang jangkung semakin terlihat menjulang dengan sepasang sepatu boot di kakinya. Namun, ada satu hal yang paling tidak pasaran dari seorang Agus Noor: senyumnya yang sangat lebar dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, memburu seperti peluru.


Kelihatan 'kan yang mana Agus Noor?

Yeaap! Kata-katanya memang memburu seperti peluru. Meluncur cepat menuju sasaran. Saya dan teman-teman lain yang terpilih mengikuti Workshop Cerpen Kompas sangat beruntung bisa mencuri ilmu dari sang Pangeran Kunang-kunang di sesi kedua selama dua jam (lebih, karena setelah sesi selesai, kami masih mengerubungi Agus untuk bertanya ini itu ini itu. Hehe!)

Tak heran kalau sosoknya begitu mudah dikenali oleh orang di sekitarnya, bahkan Agus Noor sendiri sangat mengenali karakter dirinya. Karakternya kuat dan ia tahu apa yang ia sukai. Karakter merupakan bumbu penting dalam menulis cerita. Karakter, memberikan ruh atau jiwa pada deretan huruf dan kalimat. Karakter, membuat tulisan seseorang memiliki ciri khas. Karakter, membuat tulisan lebih bernilai.

Belum Jadi Penulis Kalau Belum Menulis

Catatan Workshop Cerpen Kompas
Bab 1: Berguru Pada Seno Gumira Ajidarma

Bohong kalau saya mengatakan bahwa saya santai-santai saja menunggu tanggal 13 Juni 2014. Bohong besar. Saya sama sekali tidak santai apalagi woles bro sis... menunggu Jumat pagi. Saya menunggu ini:


Ya, menunggu ini, melihat nama saya tertera dalam deretan nama cerpenis yang terpilih untuk mengikuti Workshop Cerpen Kompas. Masih tidak percaya pada penglihatan sendiri, saya pun menggariskan spidol hijau persis di bawah nama saya. Hanya untuk memastikan bahwa hanya ada satu Cempaka Fajriningtyas di Jakarta yang lolos. Hanya ada satu dan itu adalah saya.

Reaksi saya berlebihan, ya? Ah, wajar kok... wajar berlebihan, apalagi kalau dapat kesempatan 'berguru' dari penulis-penulis gawat seperti Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, dan Editor Kompas Minggu yang juga gawat, Putu Fajar Arcana. Hanya 30 cerpenis yang terpilih dari 300 lebih aplikasi yang masuk.

Selasa, 05 November 2013

Dari Secangkir Kopi, Jadi… Public Relations Consultant!

Obrolan ringan tentang selembar ijazah sarjana PR dan manfaatnya untuk karir Anda di bidang PR


sumber foto: badgeandblade.com

  Judul ini saya pilih bukan karena saya seorang peminum kopi. Bukan juga karena saya bergelut di dunia public relations (PR). Judul ini mewujud karena memang kondisi yang melatarbelakanginya terjadi saat saya sedang menyeruput kopi. Sore itu, saya sedang menjadi ‘lampu sudut’. Sendiri di pojok kedai kopi, menunggu teman yang hobi ngaret sejak setengah jam yang lalu. Anda pasti setuju kan kalau menunggu = pekerjaan paling membosankan sejagat. Jadi, di situlah saya, mulai memperhatikan perilaku dan penampilan pengunjung kedai kopi yang lalu lalang sebagai pengusir bosan.

Setiap pengunjung, meski begitu berbeda satu sama lain, ternyata memiliki satu kesamaan: mereka berusaha mengomunikasikan ‘pesan’nya ke pengunjung lain. Secara non verbal, ‘pesan’ berupa identitas dan status dalam kelompok sosial mereka sampaikan melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pilihan pakaian, aksesori, gadget, potongan rambut, jenis kopi yang mereka sruput, dan bahkan posisi duduk mereka di kedai kopi. Hasilnya: identitas si dia yang nge-hits, dia yang ingin terlihat nge-hits, dia yang anti mainstream, dia yang idealis, dia yang nyeni, dia yang setengah-setengah, dia yang berpengaruh, dia yang follower, dia yang sedang mencari jati diri, dan dia yang lain-lainnya pun tersampaikan ke orang-orang di sekitarnya. Meski ‘pesan’nya kedengeran sederhana, setiap orang pasti melewati proses trial and error untuk membuat orang lain memahami ‘pesan’ mereka.

Minggu, 13 Oktober 2013

Kedai Es Kopi Tak Kie: Secangkir Masa Lampau (Bagian 2)

Tahun 1927 yang terjebak dalam secangkir kopi
Jemari A Yau melambai ke arah seorang pria di meja seberang, bibirnya menyunggingkan senyum ramah. Penampilan pria di meja seberang itu tidak kalah kuno dari kedai kopi Tak Kie. "Itu salah satu pelanggan setia kopi sini. Saya temani minum kopi sesekali," ujar A Yau sambil terkekeh. Mau tidak mau, saya ikut melambai ke arah pria kuno itu, dengan senyum kikuk.

Beberapa orang dari meja lainnya kemudian ikut melambai ke arah meja saya dan A Yau. Jemari A Yau pun kembali mengayun. Dan saya, lagi-lagi tidak punya pilihan lain selain ikut melempar senyum kikuk ke arah wajah-wajah asing itu. Wajah mereka memaksa ingatan saya kembali pada wajah pemeran figuran dalam film-film yang dibintangi Jacky Chan atau Andy Lau. "Itu yang duduk di pojok, dia orang jauh-jauh dari Tangerang ke sini cuma buat ngopi," A Yau merendahkan suaranya, seakan memastikan bahwa ucapannya hanya didengar oleh saya. Khayalan saya pun buyar.

Para penyeruput kopi kembali sibuk di meja masing-masing. Suara-suara dari mulut mereka beradu dengan deru kipas angin yang menggantung di langit-langit. "Makanya barongsai saya larang masuk ke sini. Bisa-bisa makin berisik," telunjuk A Yau mengarah ke kertas peringatan Barong Sai!!! Dilarang Masuk yang tampaknya ditempel sembarangan di bagian depan kedai.

  

Sabtu, 07 September 2013

Kedai Es Kopi Tak Kie: Secangkir Masa Lampau (Bagian 1)



Masa lampau berwarna coklat susu, siang itu meluncur di tenggorokan saya. Membuka cerita dengan rasa manis, memercikkan rasa asam yang pas, dan menyisakan pahit yang nyaman di ujung rasanya. Saya pun terbawa kembali ke tahun 1927, saat Liong Kwie Tjong mulai membuka kedai kopi Tak Kie.

Kwie Tjong sedang berdiri di samping gerobak kopinya. "Tak Kie dalam bahasa Cina berarti orang bijak dan sederhana yang diingat selamanya," ujar Kwie Tjong ke pada saya, sambil meracik es kopi hitam andalannya. Es kopi hitam yang sama, yang saya minum di tahun 2013.




Senin, 26 Agustus 2013

Ruang Bergerak di Kota Sesak

JAKARTA OVERDOSE, we need more space.


Deretan huruf yang menohok itu 'berteriak' lantang di dalam terowongan Casablanca. Dengan tinta hitam, tercetak nyata di atas kertas putih berukuran A4. Di pinggiran kertasnya, sisa lem yang mengering tampak seperti bingkai rusak. Siapapun yang menempel kertas-kertas itu, saya mengerti perasaan kamu. Mungkin kita harus minum kopi bareng, heheheee... oke saya mulai tidak fokus.

Balik lagi tentang kota kelahiran saya ini, Jakarta memang terasa lebih sesak. Saya merasa sesak. Hampir ke mana pun mata saya memandang, saya melihat yang hijau-hijau. Bukan rumput atau alam terbuka, tapi tenda-tenda Starbucks atau gerai Seven Eleven. Warna hijau yang asli, malah tertutup timbunan sampah dan bangunan. Hueek!

Beruntung, Jakarta punya Kereta Rel Listrik (KRL). Saya suka sekali dengan moda transportasi yang satu ini. Meski penumpangnya seringkali 'beringas' dalam memperebutkan teritori di dalam gerbong, saya tetap suka. Gerbongnya seperti 'ruang lebih' untuk kota Jakarta. Ruang lebih yang bergerak, membawa saya melihat Ibu Kota dari sudut pandang para pendatang. Seperti laron yang berdesakkan dalam kotak kaca yang mengejar terang lampu. Ya, saya segitu noraknya...

Gimmick produk-produk yang dipasang di pegangan tangan dalam ruang lebih ini juga membuat saya gemas. Bentuknya lucu, sampai-sampai saya pernah ingin mengambilnya. Satu saja. Hehehee... Tapi keinginan itu tidak pernah saya wujudkan, lho. Saya tidak ingin merusak 'ruang lebih' yang satu ini.   

KRL jurusan Bogor - Jakarta Kota, saat akhir pekan. Dengan jarak sejauh itu, siapa juga yang tidak pegal dan kram?



Minggu, 25 Agustus 2013

Kamu Starbucks atau WalMart?

Blog post yang akan kamu baca berikut ini adalah tulisan saya yang 'mangkal' di web Praxis tempat saya bekerja saat ini.

Nah, pertanyaan pentingnya adalah: Kamu Starbucks atau Wal Mart?
Saya tipe Starbucks :p
.................................................................................................................................................


'Einstein says hello!' sumber foto: npr.org

8 is the number of new twitter accounts registered every one second.
Oh yes, the ‘bird’ is now one of the most influential communication channel.



I was like, “OMG!”

The number of tweeple (twitter people) has now reached more than 301 million. It is bigger than the population of Indonesia (approx. 237 million). And nearly matches the population of the United States (approx. 307 million). Oh, almost forget, the calculation is from twopcharts.com.

Jaw dropping? Yeap! The microblogging site has become a republic, a Larry Bird Republic. You can actually meet almost everyone (and every-thing!) on it. Not to mention, brands. From the worldwide @DunkinDonuts to the local-style snack such as @infomaicih, they are all ready to communicate up-to-the-minute information with you.

Jumat, 28 Desember 2012

Surga yang Disewakan

Belok kanan!


       Kulit njawani saya terpapar sinar matahari sore. Terik, namun menyisakan rasa nyaman. Gelembung udara kering mulai memasuki paru-paru. Tidak ada aroma terburu-buru yang memburu, hanya ada ruang-ruang teduh yang siap menerima kejutan selama perjalanan.
       Yeap! Kaki saya menginjak tanah Yogyakarta. Hanya saya dan satu koper, bulan Juni 2012 lalu. Tidak membuat janji dengan siapapun, apapun, kapanpun selama empat hari. Tujuan: mencari surga. Surga versi saya. Sederhana ternyata, di mana waktu berdetik santai.
       Setelah abang becak mengayuh sekitar lima kilometer dari pusat Yogyakarta ke arah selatan dan ia mulai kehabisan cerita tentang presiden pertama Republik Indonesia, saya pun tiba di surga versi saya. Terasnya tanpa pagar dengan pintu kayu terbuka lebar, Delta Home Stay di Prawirotaman. Tepatnya, Jl. Gerilya Prawirotaman MG III / 597A, Yogyakarta 55153, Indonesia.
       Tidak ada senyum berlebihan ala hotel bintang lima saat saya melenggang. Hanya ada seorang wanita, usianya mungkin menginjak empat puluhan, dengan senyum wajar. Sangat wajar. Dengan santun, ia meminta tanda pengenal saya untuk dicatat dan menyerahkan kunci. Sudah. Tanpa embel-embel yang tidak perlu.
      
Lorong yang menghubungkan lobby dengan area penginapan. Okay, sebut saya 'berlebihan' atau dramaaaa. Tapi, sumpah, waktu terasa berdetik lebih santai saat melewati lorong ini.

Kamis, 08 November 2012

Obrolan Kopi Ed Zoelverdi



Seperti minum kopi, Ed Zoelverdi menjalani hidupnya dengan ringan.
Wartawan foto profesional yang akrab dengan sebutan Mat Kodak ini bahkan dengan bangga
mengatakan bahwa dirinya adalah orang pasar yang tidak pernah sekolah.


   Usia Ed Zoelverdi memang tidak muda lagi. Tahun ini usianya 66 tahun pada 12 Maret yang lalu. Namun, pria nyentrik yang dilahirkan di Kutaraja (kini Banda Aceh) itu tidak pernah merasa tua. Menurutnya, usia dalam konteks badaniah boleh saja tua tetapi kemanfaatan hidup tidak diukur dari sudah berapa lama orang itu hidup di dunia, melainkan dari cara berpikir.
   Kata-kata bijak yang dirangkainya sendiri itu rupanya dimaknai dengan sangat mendalam oleh Ed. Cara berpikirnya yang kritis dan jiwanya yang mencintai tantangan, membuat kepala Ed selalu disesaki oleh ribuan pertanyaan. Rasa haus akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat jiwanya selalu muda.
   Ed tidak ingin sekedar menjadi bangkai hidup yang tidak pernah berpikir alias zombie dalam kehidupan ini. Ia tidak ingin mati sebelum ajal. Tampaknya, rasa enggan menjadi zombie tersebutlah yang pada akhirnya mengenalkan Ed pada dunia fotografi, dunia yang sangat dicintainya sampai saat ini.

Minggu, 27 Desember 2009

1095 Hari Bertutur Tentang Kamu

1095 hari. Mungkin bagi sebagian orang, jumlah hari itu cukup banyak. Tetapi itu sedikit, bila bertutur tentang kamu. Bertutur tentang kamu, tidak akan pernah khatam. Bukan seperti eksakta yang serba absolut. Bukan pula seperti menghitung jumlah hari dalam satu minggu yang sudah dipatenkan. Bukan seperti itu.

Bertutur tentang kamu, membuat degub jantungku menggila. Semua menjadi absurd. Padahal kamu hanyalah seorang homo sapiens dalam satu siklus hidupku. Tetapi, itulah kamu. Kamu adalah dunia, bagiku. Kamu, yang seringkali bertengkar denganku hanya gara-gara sebatang Dji Sam Soe

Kamu....
Kamu....
Kamu....
Dan masih banyak lagi tentang kamu

Bertutur tentang kamu dan semua gerak-gerikmu, memanglah sangat menyenangkan. Bak utopia. Tetapi aku, tidak ingin menjadikanmu utopia-ku. Kamu nyata ketika menggandeng tanganku dan mengajakku pulang.

Ah, sungguh aku masih ingin sekali bertutur banyak tentang kamu. Masih ingin ada hari ke 1096, 1097, 1098, 1099…




Depok, 10 Juni 2007