Catatan Workshop Cerpen Kompas
Bab 2: Menyapa Pangeran Kunang-kunang, Agus Noor
(Masih dalam suasana gagal move on dari Workshop Cerpen Kompas)
Tidak sulit mengenali sosok Agus Noor di antara kerumunan orang. Rambutnya gondrong diikat seadanya dengan karet yang juga seadanya, berkacamata, tubuhnya yang jangkung semakin terlihat menjulang dengan sepasang sepatu boot di kakinya. Namun, ada satu hal yang paling tidak pasaran dari seorang Agus Noor: senyumnya yang sangat lebar dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, memburu seperti peluru.
![]() |
| Kelihatan 'kan yang mana Agus Noor? |
Yeaap! Kata-katanya memang memburu seperti peluru. Meluncur cepat menuju sasaran. Saya dan teman-teman lain yang terpilih mengikuti Workshop Cerpen Kompas sangat beruntung bisa mencuri ilmu dari sang Pangeran Kunang-kunang di sesi kedua selama dua jam (lebih, karena setelah sesi selesai, kami masih mengerubungi Agus untuk bertanya ini itu ini itu. Hehe!)
Tak heran kalau sosoknya begitu mudah dikenali oleh orang di sekitarnya, bahkan Agus Noor sendiri sangat mengenali karakter dirinya. Karakternya kuat dan ia tahu apa yang ia sukai. Karakter merupakan bumbu penting dalam menulis cerita. Karakter, memberikan ruh atau jiwa pada deretan huruf dan kalimat. Karakter, membuat tulisan seseorang memiliki ciri khas. Karakter, membuat tulisan lebih bernilai.
