Tampilkan postingan dengan label Urban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Urban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 November 2014

Penggila Bubble Tea yang Setia Pada Kopi





Yes, please, Mr. Gosling!

Saya dan kopi bukan pasangan ideal. Lebih tepatnya, kami pasangan yang janggal. Sesekali saya masih menduakan kopi dengan bubble tea rasa taro yang rasanya lebih centil. Tapi perselingkuhan saya dengan bubble tea rasa taro nggak pernah bertahan lama. Akhirnya, kepada kopi saya selalu kembali. 

Ada riak yang memprovokasi inspirasi di balik permukaan tenang seduhan kopi. Yeap, kopi sering menjentikkan sesuatu di dalam kepala saya. Saat mati gaya bertemu dengan narasumber yang kaku, perdebatan santai tentang kopi hitam dan kopi susu bisa melelehkan suasana. Ketika berbeda pendapat dengan Ayah, secangkir kopi jadi pemecah keheningan yang nyaman. Atau ketika tenggat waktu pekerjaan memburu, segelas kopi dingin bisa diandalkan.
 

Hubungan saya dan kopi memang janggal karena, sumpah, saya nggak terlalu suka dengan sensasi pahit atau getir di penghujung rasa kopi. Tapi saya setia pada kopi karena kopi bukan pencemburu, yang menuntut dengan buru-buru. Karena kopi itu santai, tapi bisa melesatkan ide-ide baru. Karena kopi itu tepat waktu, ia tahu kapan harus menjelma jadi letupan semangat, ia juga tahu kapan harus mewujud jadi sahabat.


***
Twitter: @cemmmpaka

Selasa, 05 November 2013

Dari Secangkir Kopi, Jadi… Public Relations Consultant!

Obrolan ringan tentang selembar ijazah sarjana PR dan manfaatnya untuk karir Anda di bidang PR


sumber foto: badgeandblade.com

  Judul ini saya pilih bukan karena saya seorang peminum kopi. Bukan juga karena saya bergelut di dunia public relations (PR). Judul ini mewujud karena memang kondisi yang melatarbelakanginya terjadi saat saya sedang menyeruput kopi. Sore itu, saya sedang menjadi ‘lampu sudut’. Sendiri di pojok kedai kopi, menunggu teman yang hobi ngaret sejak setengah jam yang lalu. Anda pasti setuju kan kalau menunggu = pekerjaan paling membosankan sejagat. Jadi, di situlah saya, mulai memperhatikan perilaku dan penampilan pengunjung kedai kopi yang lalu lalang sebagai pengusir bosan.

Setiap pengunjung, meski begitu berbeda satu sama lain, ternyata memiliki satu kesamaan: mereka berusaha mengomunikasikan ‘pesan’nya ke pengunjung lain. Secara non verbal, ‘pesan’ berupa identitas dan status dalam kelompok sosial mereka sampaikan melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pilihan pakaian, aksesori, gadget, potongan rambut, jenis kopi yang mereka sruput, dan bahkan posisi duduk mereka di kedai kopi. Hasilnya: identitas si dia yang nge-hits, dia yang ingin terlihat nge-hits, dia yang anti mainstream, dia yang idealis, dia yang nyeni, dia yang setengah-setengah, dia yang berpengaruh, dia yang follower, dia yang sedang mencari jati diri, dan dia yang lain-lainnya pun tersampaikan ke orang-orang di sekitarnya. Meski ‘pesan’nya kedengeran sederhana, setiap orang pasti melewati proses trial and error untuk membuat orang lain memahami ‘pesan’ mereka.

Senin, 26 Agustus 2013

Ruang Bergerak di Kota Sesak

JAKARTA OVERDOSE, we need more space.


Deretan huruf yang menohok itu 'berteriak' lantang di dalam terowongan Casablanca. Dengan tinta hitam, tercetak nyata di atas kertas putih berukuran A4. Di pinggiran kertasnya, sisa lem yang mengering tampak seperti bingkai rusak. Siapapun yang menempel kertas-kertas itu, saya mengerti perasaan kamu. Mungkin kita harus minum kopi bareng, heheheee... oke saya mulai tidak fokus.

Balik lagi tentang kota kelahiran saya ini, Jakarta memang terasa lebih sesak. Saya merasa sesak. Hampir ke mana pun mata saya memandang, saya melihat yang hijau-hijau. Bukan rumput atau alam terbuka, tapi tenda-tenda Starbucks atau gerai Seven Eleven. Warna hijau yang asli, malah tertutup timbunan sampah dan bangunan. Hueek!

Beruntung, Jakarta punya Kereta Rel Listrik (KRL). Saya suka sekali dengan moda transportasi yang satu ini. Meski penumpangnya seringkali 'beringas' dalam memperebutkan teritori di dalam gerbong, saya tetap suka. Gerbongnya seperti 'ruang lebih' untuk kota Jakarta. Ruang lebih yang bergerak, membawa saya melihat Ibu Kota dari sudut pandang para pendatang. Seperti laron yang berdesakkan dalam kotak kaca yang mengejar terang lampu. Ya, saya segitu noraknya...

Gimmick produk-produk yang dipasang di pegangan tangan dalam ruang lebih ini juga membuat saya gemas. Bentuknya lucu, sampai-sampai saya pernah ingin mengambilnya. Satu saja. Hehehee... Tapi keinginan itu tidak pernah saya wujudkan, lho. Saya tidak ingin merusak 'ruang lebih' yang satu ini.   

KRL jurusan Bogor - Jakarta Kota, saat akhir pekan. Dengan jarak sejauh itu, siapa juga yang tidak pegal dan kram?



Minggu, 25 Agustus 2013

Kamu Starbucks atau WalMart?

Blog post yang akan kamu baca berikut ini adalah tulisan saya yang 'mangkal' di web Praxis tempat saya bekerja saat ini.

Nah, pertanyaan pentingnya adalah: Kamu Starbucks atau Wal Mart?
Saya tipe Starbucks :p
.................................................................................................................................................


'Einstein says hello!' sumber foto: npr.org

8 is the number of new twitter accounts registered every one second.
Oh yes, the ‘bird’ is now one of the most influential communication channel.



I was like, “OMG!”

The number of tweeple (twitter people) has now reached more than 301 million. It is bigger than the population of Indonesia (approx. 237 million). And nearly matches the population of the United States (approx. 307 million). Oh, almost forget, the calculation is from twopcharts.com.

Jaw dropping? Yeap! The microblogging site has become a republic, a Larry Bird Republic. You can actually meet almost everyone (and every-thing!) on it. Not to mention, brands. From the worldwide @DunkinDonuts to the local-style snack such as @infomaicih, they are all ready to communicate up-to-the-minute information with you.

Minggu, 23 Juni 2013

Ketika Sang Dalang Mengajak Bercinta


‘Pintu rumah’ dalang wayang suket Slamet Gundono terbuka.

Mengajak manusia bermesraan di dalamnya.

Menyatu dalam cinta dan kehilangan.






     Ruangan berdinding hitam itu hening. Tak ada telapak tangan yang beradu, tak ada juga yang beranjak meninggalkan bangku. Padahal, para seniman di panggung sudah berhenti menari beberapa detik yang lalu. Dalam cahaya temaram dan bisikan yang teredam, para penonton yang berasal dari berbagai bangsa malah terpaku.

     Perlahan, cahaya putih menerangi panggung. Sinarnya menerpa wajah para penonton dengan canggung. Ada yang menyunggingkan senyum, ada pula yang menatap dengan kagum. Ada deru napas yang tertahan, tampak pula bibir yang gemetar. Semua itu kemudian larut dalam tepukan tangan dan sorakan riuh yang mengiringi kepergian enam seniman ke balik layar panggung.

Selama dua malam (27-28 April 2012), ruangan Teater Salihara, Pasar Minggu, jadi saksi bisu. Barat dan Timur, tradisional dan modern, tua dan muda, pria dan wanita, akal dan nafsu ternyata bisa saling memahami dalam satu bahasa. Bahasa cinta dan kehilangan. Itulah yang Akiko Kitamura (koreografer dan penari-Jepang), Martinus Miroto (penari-Indonesia), Rianto (penari-Indonesia), Ruri Mito (penari-Jepang), Kei Ishikawa (sutradara-Jepang), Yasuhiro Morinaga (penata suara-Jepang), dan Slamet Gundono buktikan dalam pementasan tari kontemporer To Belong.