Obrolan ringan tentang selembar ijazah sarjana PR dan manfaatnya untuk karir Anda di bidang PR
Judul ini saya pilih bukan karena saya seorang peminum kopi. Bukan juga karena saya bergelut di dunia public relations (PR). Judul
ini mewujud karena memang kondisi yang melatarbelakanginya terjadi saat
saya sedang menyeruput kopi. Sore itu, saya sedang menjadi ‘lampu
sudut’. Sendiri di pojok kedai kopi, menunggu teman yang hobi ngaret sejak
setengah jam yang lalu. Anda pasti setuju kan kalau menunggu =
pekerjaan paling membosankan sejagat. Jadi, di situlah saya, mulai
memperhatikan perilaku dan penampilan pengunjung kedai kopi yang lalu
lalang sebagai pengusir bosan.
Setiap pengunjung, meski begitu berbeda
satu sama lain, ternyata memiliki satu kesamaan: mereka berusaha
mengomunikasikan ‘pesan’nya ke pengunjung lain. Secara non verbal,
‘pesan’ berupa identitas dan status dalam kelompok sosial mereka
sampaikan melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, pilihan pakaian,
aksesori, gadget, potongan rambut, jenis kopi yang mereka sruput, dan bahkan posisi duduk mereka di kedai kopi. Hasilnya: identitas si dia yang nge-hits, dia yang ingin terlihat nge-hits, dia yang anti mainstream, dia yang idealis, dia yang nyeni, dia yang setengah-setengah, dia yang berpengaruh, dia yang follower, dia
yang sedang mencari jati diri, dan dia yang lain-lainnya pun
tersampaikan ke orang-orang di sekitarnya. Meski ‘pesan’nya kedengeran
sederhana, setiap orang pasti melewati proses trial and error untuk membuat orang lain memahami ‘pesan’ mereka.