Minggu, 27 Oktober 2013

Berbicara Pada Kemarin: Happy Birthday, Fu!



Langitku telanjur terang saat Fu memulai detik pertamanya sebagai laki-laki berusia 28 tahun.
Langitku sudah melaju 13 jam lebih cepat, entah apa yang membuatnya begitu terburu-buru.
Sial.
Tapi langitku lupa, aku selalu bisa menemukan Fu.
Terima kasih, Google Hangouts.

Ps: Happy 28th birthday, Fu!
Pss: I hate your mustache.
Psss: But I love you.
Pssss: But I hate your mustache


Minggu, 13 Oktober 2013

Kedai Es Kopi Tak Kie: Secangkir Masa Lampau (Bagian 2)

Tahun 1927 yang terjebak dalam secangkir kopi
Jemari A Yau melambai ke arah seorang pria di meja seberang, bibirnya menyunggingkan senyum ramah. Penampilan pria di meja seberang itu tidak kalah kuno dari kedai kopi Tak Kie. "Itu salah satu pelanggan setia kopi sini. Saya temani minum kopi sesekali," ujar A Yau sambil terkekeh. Mau tidak mau, saya ikut melambai ke arah pria kuno itu, dengan senyum kikuk.

Beberapa orang dari meja lainnya kemudian ikut melambai ke arah meja saya dan A Yau. Jemari A Yau pun kembali mengayun. Dan saya, lagi-lagi tidak punya pilihan lain selain ikut melempar senyum kikuk ke arah wajah-wajah asing itu. Wajah mereka memaksa ingatan saya kembali pada wajah pemeran figuran dalam film-film yang dibintangi Jacky Chan atau Andy Lau. "Itu yang duduk di pojok, dia orang jauh-jauh dari Tangerang ke sini cuma buat ngopi," A Yau merendahkan suaranya, seakan memastikan bahwa ucapannya hanya didengar oleh saya. Khayalan saya pun buyar.

Para penyeruput kopi kembali sibuk di meja masing-masing. Suara-suara dari mulut mereka beradu dengan deru kipas angin yang menggantung di langit-langit. "Makanya barongsai saya larang masuk ke sini. Bisa-bisa makin berisik," telunjuk A Yau mengarah ke kertas peringatan Barong Sai!!! Dilarang Masuk yang tampaknya ditempel sembarangan di bagian depan kedai.

  

Sabtu, 07 September 2013

Kedai Es Kopi Tak Kie: Secangkir Masa Lampau (Bagian 1)



Masa lampau berwarna coklat susu, siang itu meluncur di tenggorokan saya. Membuka cerita dengan rasa manis, memercikkan rasa asam yang pas, dan menyisakan pahit yang nyaman di ujung rasanya. Saya pun terbawa kembali ke tahun 1927, saat Liong Kwie Tjong mulai membuka kedai kopi Tak Kie.

Kwie Tjong sedang berdiri di samping gerobak kopinya. "Tak Kie dalam bahasa Cina berarti orang bijak dan sederhana yang diingat selamanya," ujar Kwie Tjong ke pada saya, sambil meracik es kopi hitam andalannya. Es kopi hitam yang sama, yang saya minum di tahun 2013.




Senin, 26 Agustus 2013

Ruang Bergerak di Kota Sesak

JAKARTA OVERDOSE, we need more space.


Deretan huruf yang menohok itu 'berteriak' lantang di dalam terowongan Casablanca. Dengan tinta hitam, tercetak nyata di atas kertas putih berukuran A4. Di pinggiran kertasnya, sisa lem yang mengering tampak seperti bingkai rusak. Siapapun yang menempel kertas-kertas itu, saya mengerti perasaan kamu. Mungkin kita harus minum kopi bareng, heheheee... oke saya mulai tidak fokus.

Balik lagi tentang kota kelahiran saya ini, Jakarta memang terasa lebih sesak. Saya merasa sesak. Hampir ke mana pun mata saya memandang, saya melihat yang hijau-hijau. Bukan rumput atau alam terbuka, tapi tenda-tenda Starbucks atau gerai Seven Eleven. Warna hijau yang asli, malah tertutup timbunan sampah dan bangunan. Hueek!

Beruntung, Jakarta punya Kereta Rel Listrik (KRL). Saya suka sekali dengan moda transportasi yang satu ini. Meski penumpangnya seringkali 'beringas' dalam memperebutkan teritori di dalam gerbong, saya tetap suka. Gerbongnya seperti 'ruang lebih' untuk kota Jakarta. Ruang lebih yang bergerak, membawa saya melihat Ibu Kota dari sudut pandang para pendatang. Seperti laron yang berdesakkan dalam kotak kaca yang mengejar terang lampu. Ya, saya segitu noraknya...

Gimmick produk-produk yang dipasang di pegangan tangan dalam ruang lebih ini juga membuat saya gemas. Bentuknya lucu, sampai-sampai saya pernah ingin mengambilnya. Satu saja. Hehehee... Tapi keinginan itu tidak pernah saya wujudkan, lho. Saya tidak ingin merusak 'ruang lebih' yang satu ini.   

KRL jurusan Bogor - Jakarta Kota, saat akhir pekan. Dengan jarak sejauh itu, siapa juga yang tidak pegal dan kram?



Minggu, 25 Agustus 2013

Kamu Starbucks atau WalMart?

Blog post yang akan kamu baca berikut ini adalah tulisan saya yang 'mangkal' di web Praxis tempat saya bekerja saat ini.

Nah, pertanyaan pentingnya adalah: Kamu Starbucks atau Wal Mart?
Saya tipe Starbucks :p
.................................................................................................................................................


'Einstein says hello!' sumber foto: npr.org

8 is the number of new twitter accounts registered every one second.
Oh yes, the ‘bird’ is now one of the most influential communication channel.



I was like, “OMG!”

The number of tweeple (twitter people) has now reached more than 301 million. It is bigger than the population of Indonesia (approx. 237 million). And nearly matches the population of the United States (approx. 307 million). Oh, almost forget, the calculation is from twopcharts.com.

Jaw dropping? Yeap! The microblogging site has become a republic, a Larry Bird Republic. You can actually meet almost everyone (and every-thing!) on it. Not to mention, brands. From the worldwide @DunkinDonuts to the local-style snack such as @infomaicih, they are all ready to communicate up-to-the-minute information with you.